Monday, February 3, 2014

Harga Tiket Citilink Sudah Termasuk "Airport Tax"

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Maskapai penerbangan Citilink mengumumkan kebijakan baru, yaitu passenger service charge (PSC) atau airport tax, sudah termasuk di dalam harga tiket untuk semua rute, di semua bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura (AP) I dan AP II. Kebijakan itu efektif per Sabtu, 1 Februari 2014.

"Kebijakan PSC yang menjadi satu dengan tiket Citilink semakin memudahkan Citilinkers. Mereka tidak perlu antre di bandara-bandara yang dikelola oleh AP I dan AP II. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai Citilink, yaitu simple, on time, dan convenient," ujar Chief Executive Officer PT Citilink Indonesia, Arif Wibowo, dalam siaran persnya, Senin (3/2/2014).

Arif menambahkan, harga tiket Citilink (date of issue/DOI) mulai 1 Januari 2014, sudah termasuk PSC. Sedangkan untuk penumpang yang membeli tiket Citilink sebelum 1 Januari 2014 tetap akan membayar PSC atau airport tax di bandara yang dikelola oleh AP I dan AP II.

"Kami telah melakukan sosialisasi mengenai kebijakan baru ini di semua media sosial, situs resmi Citilink, seluruh bandara di Indonesia serta seluruh mitra-mitra agen perjalanan Citilink," ujar Arif.

Hingga saat ini, Citilink mengoperasikan 24 armada Airbus A320 terbaru, dua di antaranya jenis Sharklets atau bersayap model sirip hiu. Seluruh armada tersebut adalah untuk melayani 28 rute domestik di 22 kota tujuan ke berbagai kota di wilayah Indonesia setiap harinya. (Adiatmaputra Fajar Pratama)


sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/03/1325444/Harga.Tiket.Citilink.Sudah.Termasuk.Airport.Tax.

Defisit Neraca Perdagangan RI di Bawah Perkiraan

 

JAKARTA, KOMPAS.com- Neraca perdagangan Indonesia dari Januari-Desember 2013 secara kumulatif mengalami defisit sebesar 4,063 miliar dollar AS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan, angka ini cukup mengejutkan sekaligus menggembirakan karena di bawah yang banyak diprediksikan ekonom dan pengamat yang mengatakan defisitnya bisa menembus 5 miliar dollar AS.
"November kita defisitnya masih 5,6 miliar dollar AS. Berarti dengan surplus Desember saja, defisitnya bisa turun cukup drastis, jauh di bawah prediksi pengamat. Semoga berpengaruh ke defisit neraca transaksi berjalan," terang Suryamin di kantornya, Senin (3/2/2014).
Sepanjang Januari-Desember 2013, perdagangan hasil minyak mengalami defisit sangat besar senilai 24,268 miliar dollar AS, dan minyak mentah defisit sebesar 3,382 miliar dollar AS. Secara total perdagangan migas mengalami defisit 12,633 miliar dollar AS.
"Perdagangan gas selama tahun 2013 mengalami surplus sebesar 15,016 miliar dollar AS. Dan nonmigas mengalami surplus perdagangan sebesar 8,570 miliar dollar AS," jelas Suryamin.
Suryamin menilai, ada indikasi pemerintah berhasil mengerem impor. Secara kumulatif, nilai impor Januari-Desember 2013 mencapai 186,63 miliar dollar AS atau turun 2,64 persen jika dibanding impor periode sama tahun 2012.
BPS juga mencatat nilai impor barang konsumsi dan barang modal selama Januari-Desember 2013 mengalami penurunan dibanding periode yang sama taun sebelumnya, masing-masing 2 persen dan 17,35 persen. Namun, impor bahan baku penolong meningkat 1,31 persen.
"Kita ingat 2011 dan 2012 neraca perdagangan defisit, tapi 2013 berhasil surplus. Ini terbesar selama lima tahun terakhir. Semoga ini gambaran baik bagi ekonomi negara kita," pungkasnya.

sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/03/1549034/Defisit.Neraca.Perdagangan.RI.di.Bawah.Perkiraan

Investor Keluhkan Saham-saham Grup Bakrie yang Jeblok

 
JAKARTA, KOMPAS.com — Salah seorang investor ritel pada paparan kinerja PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), Nunu Darmawan, mengaku kecewa atas kinerja saham Bakrie Grup yang tergolong masuk kategori di saham "tidur".

Nunu Darmawan secara gamblang mengaku kecewa terhadap saham Grup Bakrie yang dimilikinya. Sebagai pengoleksi saham Bakrie, dia mengaku waswas terhadap pergerakan saham ANTV yang dikabarkan akan melakukan penawaran perdana saham atau IPO.

"Kan saya dengar ANTV juga mau go public ya, saya enggak mau harga saham ANTV nantinya terus anjlok seperti saham BUMI dan UNSP," ujar Nunu di Menara Epicentrum Kuningan, Jakarta, Senin (3/2/2014).

Nunu pun bercerita ketika dia membeli saham BUMI yang dahulunya berada pada harga sekitar Rp 4.000 per saham, tetapi sekarang harga BUMI menginjak di sekitar Rp 300 per saham. Sama halnya dengan saham UNSP yang sudah Rp 50 per saham.

"Saya beli semua saham Grup Bakrie, namun semuanya anjlok," katanya.

Seperti diketahui anak usaha VIVA, PT Intermedia Capital (ANTV), berniat untuk melakukan penawaran perdana saham pada tahun ini. ANTV sudah menggelar mini ekspose untuk mewujudkan langkahnya melantai di bursa. (Arif Wicaksono)


sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/03/1523536/Investor.Keluhkan.Saham-saham.Grup.Bakrie.yang.Jeblok

Inilah Penyumbang Inflasi Awal Tahun Ini

 

JAKARTA, KOMPAS.com- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin memaparkan sejumlah komoditas menyumbang indeks harga konsumen (inflasi) Januari 2014.
Menurut catatan BPS, sejumlah bahan pangan dan hortikultura yang cepat rusak, banyak menyumbang inflasi pada awal tahun 2014. Hal ini disebabkan oleh cuaca buruk sehingga menggangu produksi juga distribusi.

Namun secara keseluruhan, penyumbang terbesar adalah konsumsi bahan bakar rumah tangga, dengan kontribusi sebesar 0,17 persen.
"Perubahan harga bahan bakar rumah tangga 11,25 persen. Ini karena ada kebijakan dari Pertamina tentang penaikan elpiji 12 kilogram," terang Suryamin, di kantornya, Senin (3/2/2014).
Terdapat 82 kota yang mencatatkan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dengan kontribusi utama adalah bahan bakar rumah tangga. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Meulaboh Aceh, sebesar 47 persen, dan satu kota harganya stabil, yakni di Tual.
Andil kedua datang dari ikan segar dengan andil sebesar 0,12 persen. Komoditas tersebut mengalami kenaikan harga 3,62 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini disebabkan lantaran kurangnya pasokan akibat cuaca yang kurang bagus.
Selanjutnya, komoditas cabai merah dengan andil 0,08 persen, karena perubahan harganya yang mencapai 8,1 persen. Penyebabnya adalah karena cuaca buruk yang menyebabkan produksi berkurang dan juga gangguan distribusi.

Dalam hal ini terjadi kenaikan harga cabai merah di 51 kota IHK, dan tertinggi terjadi di Metro Lampung dengan kenaikan 42 persen.
Daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang 0,06 terhadap inflasi Januari 2014. "Ini disebakan pasokan yang berkurang karena banjir," imbuh Suryamin.
Beras juga menyumbang inflasi bulanan awal tahun ini, meski tidak terlalu tinggi yakni 0,05 persen. Disebabkan lantaran masih dalam musim tanam sehingga pasokan berkurang.
Adapun tiga hortikultura yakni tomat sayur, bayam, dan kangkung harganya naik lebih dari 100 persen di berbagai daerah, lantaran cuaca buruk. Seperti yang terjadi di Pangkal Pinang misalnya, harga tomat sayur terkerek naik 100-183 persen, sementara harga kangkung naik 181 persen.
Di Tembilahan, harga bayam naik 100 persen. Sementara, di Tanjung Pandan, harga kangkung naik 136 persen.
"Cabai rawit andilnya dalam inflasi 0.02, dengan kenaikan harga cukup tinggi sebesar 23,89 persen. Ini disebabkan pasokan berkurang karena hujan. Kenaikan harga cabai rawit tertinggi di Jambi 91 persen dan Tembilahan, 85 persen," pungkas Suryamin.

sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/03/1648273/Inilah.Penyumbang.Inflasi.Awal.Tahun.Ini

Dugaan Kisruh Beras Mengarah ke Pelaku Pasar

 
JAKARTA, KOMPAS.com - Investigasi yang dilakukan Kementerian Perdagangan menunjukkan pelaku impor beras Vietnam yang belakangan membuat kisruh mengarah kepada importir.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menegaskan, penelurusan yang dilakukan Kemendag belum rampung. "Soal beras ini belum selesai. Ini sebuah penelurusan yang belum tuntas," kata dia, Senin (3/2/2014).

Kendati demikian, ada sedikit titik terang dari investigasi yang dilakukan sampai hari ini. Beras seperti Japonica dan Basmati, kata Bayu, boleh diperjualbelikan di rumah sakit, restoran, dengan harga umumnya lebih mahal.

"Namun, ada laporan dari masyarakat, ada beras Vietnam itu diperjualbelikan di Pasar Induk Cipinang. Kita lakukan penelusuran, apakah itu beras medium? Itu bukan beras medium, tapi beras premium," terang Bayu.

"Anehnya, harganya lebih murah dibanding harga premium lainnya. Tidak tahu ini persaingan atau apa," kata dia lagi.

Lebih lanjut, Bayu mengatakan, secara administratif beras dimasukkan pada kode HS sama, kecuali Thai hom mali, guna penyederhanaan. Dari pemeriksaan sampling karantina, dan pemeriksaan dokumen Bea Cukai, semuanya sesuai.

"Saya tegaskan, selama 2013 tidak ada rekomendasi beras khusus medium dan tidak ada izin impor beras khusus medium. Tidak ada izin dan rekomendasinya," tegas Bayu.

Ia menuturkan, realisasi impor seringkali berbeda dari alokasi, rekomendasi, dan izin yang diberikan. Hal itu disebabkan memang ada penurunan permintaan dari importir atau kurangnya ketersediaan suplier di luar negeri.

"Kita akan menindak distributor atau importir. Penindakannya bisa mulai pencabutan izin, sampai kalau dia melakukan tindak pidana ekonomi atau dia lakukan penipuan akan kita tindak," ujarnya.

Terkait dengan kebijakan impor beras, selama ini pelaku importasi beras umum, baik premium ataupun medium hanya bisa dilakukan oleh Perum Bulog.

Selanjutnya, importasi beras khusus premium hanya bisa diimpor oleh importir terdaftar atas rekomendasi Kementerian Pertanian, persetujuan impor Kemendag, disertai LS.


sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/03/1738348/Dugaan.Kisruh.Beras.Mengarah.ke.Pelaku.Pasar